Jumat, 29 Januari 2010

DUA KOTA DUA CERITA

Tepat setahun yang lalu, persisnya pada 11 Januari, Adi Wicaksono memancing kontroversi dengan menulis artikel di Kompas, berjudul “Yang Keren dan Terkendali”. Isi tulisan ini mencoba memperbandingkan kecenderungan terbaru seniman-seniman muda di Yogyakarta dan Bandung. Adi menyorot seputar gaya hidup seniman sebagai sumber atau pola untuk membaca gagasan dalam berkarya.

Di situ kemudian lahir kata “mbentoyong” dan “cool”, sebagai kata yang mencerminkan gaya hidup yang menjadi lebih penting dalam menilai suatu karya ketimbang usaha untuk mengulas lebih jauh karyanya itu sendiri. Tentu saja, timbul perkembangan yang menarik ketika kemudian tulisan ini menjurus kepada hal-hal yang sangat subyektif. Yuswantoro Adi dari kubu Yogyakarta yang merasa diremehkan kemudian berusaha membuat tulisan tandingan, dan demikian seterusnya. Begitulah antara lain satu contoh yang menunjukkan bahwa usaha menghadap-hadapkan dua “kubu” Yogyakarta dan Bandung selama ini selalu terjadi. Sayangnya, sampai sekarang orang belum mendapatkan kesimpulan yang cukup berarti mengenai hasil dari diskusi dan perdebatan mengenai topik ini, serta dari artikel-artikel yang ditulis tentang hal ini.

Pameran yang akan dibuka tanggal 30 january 2010 jam 7 malam ini digagas sebagai upaya langsung mempertemukan kedua kubu dengan memamerkan karya-karya seniman muda yang dianggap cukup merepresentasikan mazhab Yogyakarta dan Bandung terkini. Nantinya akan dilakukan Discussion dengan keynote speaker Adi Wicaksono & Agung Kurniawan sekitar pukul 8 malam. Pameran ini juga didukung oleh Beatrix Hendriani. Erik Pauhrizi. Faisal Habibi. Guntur Timur. Cinanti Astria Johansjah. Octora R. Yuki Agriadi. Tisa Granicia. Tommy Aditama Putra. Tromarama. Ayu Arista Murti. Indieguerillas. Made Diputra " Lampung" Simponi. Terra Bajragosha. Theresia Agustina. Tommy Wondra. Uji Hahan dan Utin Rini.
 
Rencananya pameran ini akan berlangsung di Semarang Contemporary Art Gallery (Jl. Taman Srigunting no 5-6). Sebagai curator, Alia Swastika menyebutkan bahwa pameran ini adalah salah satu usaha pemetaan kecil lewat pengumpulan data serta usaha pembacaan atas data-data tersebut. Dengan demikian, diharapkan segala wacana dan perdebatan yang terjadi bukan lagi hanya permainan asumsi, pendapat pribadi, dan generalisasi. Dan akhirnya kira publik seni rupa di Semarang beruntung bisa menjadi “wasit” dalam “pertandingan” dua kubu ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar